ALSAVA - Part 5
Gada yang Pantang Menyerah
"Alsava ... hentikan semua itu!" seru Gada ketika melihat Alsava mengacungkan sebuah cutter ke arahnya.
"Diam kamu Gada ...! Aku menyesal mengenalmu apalagi menganggapmu lelaki spesial di hidupku! Aku kecewa! Aku menyesal! Aku kira ... kamu lelaki yang bisa kujadikan tempat bersandar dan mengadu di tengah dukaku. Aku kira ... kamu lelaki yang bisa menjadi pelipur dukaku. Aku kira ... kamu lelaki baik yang dikirim Tuhan untuk menjadi penyemangatku!" racau Alsava. Air matanya mengalir begitu deras, tak bisa sedikit pun ia tahan. "Tapi ternyata aku salah! Aku terlalu berlebih mengharap semua itu darimu! Aku terlalu berhalusinasi!" lanjut Alsava.
Gada tampak kebingungan. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, namun ia sadar jika sibuk membela diri sendiri hanya akan memperkeruh suasana.
"Alsava ... tenang dulu ya," bujuk Gada tanpa merubah posisi tubuhnya.
"Aku akan mengingat kekejamanmu ini seumur hidupku dan sepanjang sejarah hidupku, aku nggak akan pernah memaafkanmu!" Amarah Alsava semakin menggebu. Ia pun membuka pintu mobil dengan cepat, lalu berlari menjauh dari Gada.
"Alsava ... tunggu!" seru Gada yang berusaha mengejar Alsava.
"Berhenti kamu!" Alsava membalikkan badannya dengan cutter di tangan kanannya.
Gada diam seribu bahasa. Sedangkan Alsava berlari cepat menuju tempat pangkalan ojek.
Gada mengikuti ojek yang dinaiki Alsava, namun tetap jaga jarak aman. Ia tak mau jika hal yang tak diinginkan terjadi pada Alsava.
Gada sedikit tenang ketika Alsava mulai memasuki rumah orang tuanya.
"Aku tunggu hingga satu jam di sini!" batin Gada sambil memarkir mobilnya di parkiran taman warga seberang rumah orang tua Alsava.
Satu jam, dua jam, tiga jam bahkan hingga menjelang maghrib Gada masih setia mengawasi rumah orang tua Alsava. Mesin mobil ia matikan dalam waktu yang lama, karena cuaca mendung dan angin sepoi yang bersahabat.
"Ah ... nggak ada satu pun yang keluar rumah. Bukan berarti Alsava aman!" gerutu Gada dengan pikiran yang tak karuan. Ia menyesal dengan apa yang sudah dilakukan. Jika waktu bisa diulang, ia lebih baik dianggap tak setia kawan daripada harus putus hubungan dengan Alsava.
***
Di kamar, Alsava hanya memeluk guling dan menangis sedih. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Ibunya pun tak ada di rumah, karena sedang ada urusan di kantor almarhum sang ayah.
Alsava beranjak dari tempat tidur ketika mendengar adzan maghrib berkumandang. Ia pun menyalakan lampu di ruang tertentu yang sudah terlihat gelap.
"Ibu ...! Ibu ...!" Panggilan Alsava tak memperoleh jawaban dari sang ibu.
TOK ...! TOK ...! TOK ...!
Alsava mengetuk pintu kamar ibunya, namun tak ada jawaban. Ia pun berinisiatif untuk membuka pintu kamar, namun ia tak menemukan ibunya.
"Ibu belum pulang? Lama banget?" gumam Alsava sambil berlari ke kamarnya dan mengambil ponsel untuk segera menghubungi ibunya.
"Huft ...!" Alsava terlihat kesal bercampur gelisah ketika ponsel ibunya tidak aktif.
"Mungkin ponsel ibu lowbatt." Ia pun berusaha untuk berpikiran positif.
Alsava berjalan pelan menuju meja makan. Perutnya terasa lapar, tetapi mulut seolah menolak.
"Huft ...!" Alsava membalikkan badannya ketika di meja makan hanya ada sedikit rendang. Ia pikir, rendang tersebut lebih baik buat ibunya.
Alsava berjalan dengan langkah gontai menuju ke kamarnya. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, ponselnya berdering keras. Ia yakin bukan Gada yang menelpon karena nomor Gada sudah ia blokir.
"Renaga ...!" seru Alsava sambil menekan tombol warna hijau pada layar ponselnya.
"Hallo Renaga ...!" sapanya dengan girang.
"Hallo Alsava. Kamu di mana?" tanya Renaga dari seberang sana.
"Aku di rumah. Kenapa? Kamu mau ke sini?" Alsava bertanya penuh harap. Ia dan Renaga sudah sejak TK saling mengenal. Mereka pun pernah saling menyukai satu sama lain semasa SD. Tapi cinta monyet itu tak pernah terjalin, mereka sekedar bersahabat yang terlampau akrab.
"Hhmmm ... aku mau antar makanan ke rumahmu. Tapi nanti setelah sholat maghrib. Ada ibumu, kan?" sahut Renaga yang membuat Alsava senang.
Alsava hanya ingin teman saat ini, supaya tak terus-terusan bersedih atas kepergian sang ayah untuk selamanya. Awalnya, ia berharap Gada bisa menemaninya. Tapi harapan itu pupus sudah.
"Boleh, aku tunggu ya! Sekalian donk, bawa buku pelajaran. Barangkali tadi ada catatan. Aku kan bolos hari ini. Oh iya ... ibuku belum pulang. Tadi pagi bilang mau ke kantor almarhum ayah buat ngurus apa, gitu!" jawab Alsava dengan senang.
"Kamu sih, bolos cuma gegara pacar. Jangan-jangan ntar putus sekolah gegara pacar juga! Depresi gitu, trus putus sekolah!" ejek Renaga, yang sampai saat ini masih menaruh rasa terhadap Alsava.
"Ih ... amit-amit. Nggak penting, kali! Sudahlah, aku juga mau maghrib. Aku tunggu kamu ke rumah, ya!" ucap Alsava sambil menutup sambungan teleponnya.
Kesedihan seolah pergi begitu saja dari diri Alsava saat Renaga menelponnya. Ia pun bergegas membersihkan diri dan sholat maghrib.
"Alsava ...!" panggil Keke dengan pelan.
"Eh, Ibu! Sudah lama pulangnya?" tanya Alsava sambil menghampiri ibunya, berjabat tangan dan mencium tangan sang ibu.
"Baru saja. Jalanan macet. Ponsel Ibu lowbatt, jadi mau pesan ojek online nggak bisa," sahut Keke sambil berjalan menuju meja makan.
Alsava mengikuti langkah kaki Keke. "Kan bisa naik ojek pangkalan, Bu!"
"Ibu ada voucher di aplikasi ojek online. Sayang juga kan, kalau naik ojek pangkalan!" Keke mengusap kepala Alsava ketika mereka sama-sama duduk di ruang makan. "Ibu nggak beli makanan, Alsava. Ibu mau ajak kamu makan malam di luar!" Senyum Keke tersungging lebar.
"Renaga mau ke sini, Bu! Antar makanan!" sahut Alsava.
"Oh ya? Kamu yang minta?" keryit Keke.
"Tentu saja tidak. Biarpun aku nggak punya ayah, aku nggak mau minta-minta. Apalagi minta makanan!" jelas Alsava.
Sambil tersenyum, Keke mengacungkan dua jempol tangan ke arah Alsava.
"Mulai minggu depan, Ibu kerja di kantor lama Ibu. Tadi Ibu mampir ke sana dan dengan senang hati, pemilik perusahaan kembali menerima Ibu!" ucap Keke dengan senang hati.
Mata Alsava terbelalak lebar. "Ibu mengemis pekerjaan ke sana?"
"Tentu saja tidak! Tiga tahun lalu, Ibu resign dengan baik-baik. Kebetulan yang menggantikan posisi Ibu sejak itu tidak ada yang betah. Kemarin teman sekantor Ibu menghubungi Ibu dan memberitahu jika ada kekosongan!" jelas Keke.
"Lalu?" tanya Alsava.
"Ya, Ibu nggak munafik. Ibu memang butuh pekerjaan, jadi Ibu mau mengisi kekosongan yang kebetulan dulu posisi Ibu!"
"Ibu sudah siap bekerja? Ibu nggak lelah?" tanya Alsava.
Keke menepuk-nepuk pundak Alsava. "Ibu harus siap, untuk menggantikan posisi ayahmu. Kamu ... tetap semangat ya, untuk masa depanmu!" ucap Keke.
"Tentu saja aku semangat, Ibu. Kalau begitu, aku siap menggantikan pososi Ibu di rumah. Ibu cukup bekerja. Aku yang yang memasak, membereskan rumah, mencuci pakaian dan ... pokoknya tugas Ibu di rumah aku gantikan semua!" urai Alsava dengan girang.
"Kamu harus sekolah!" celetuk Keke.
"Kan ... aku sekolah nggak sampai 24 jam, Bu. Cuma 8 jam!" Senyum Alsava terlihat tulus, guratan kesedihan pun kini tak tampak.
"Baik, Sayang! Tapi kewajiban utamamu tetap belajar!" ucap Keke.
***

Posting Komentar untuk "ALSAVA - Part 5"