Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ALSAVA - Part 6

 


Aku tuh Benci Kamu


"Three point ...! Yey ... Alsava!" 

Sorak-sorai terdengar di lapangan basket. Seorang gadis yang dulunya feminim, akhir-akhir ini mulai menanggalkan gelar feminimnya. Ia mulai menggemari basket dan bersepeda. 

"Good job, Alsava!" puji Renaga sambil menepuk punggung Alsava. Ia pun langsung memberikan sebuah handuk kecil berwarna ungu kepada Alsava.

"Eh, ungu!" seru Alsava sambil merentangkan handuk tersebut. Nama Alsava terpampang jelas di tepi handuk. Bordiran nama dengan kualitas tak diragukan. "Ini ... sengaja untukku?" tanya Alsava.

Renaga mengangguk, berjalan ke pinggir lapangan tempat tasnya berada.

"Terima kasih, ya! Cuma kamu yang bisa ngertiin aku!" Suara Alsava terdengar keras. Beberapa pasang mata pun menoleh ke arahnya, salah satunya sepasang mata elang Gada. 

Gada merasa terusik dan cemburu dengan kalimat yang baru saja diucapkan Alsava. Ia terbakar emosi dan Renaga menjadi sasarannya. 

"Jangan ganggu Alsava! Dia milikku!" pekik Gada sambil mengepalkan tangannya ke depan wajah Renaga. 

"Aku lebih dulu kenal Alsava!" sahut Renaga dengan nada tinggi. 

"Tapi aku yang lebih dulu memiliki Alsava!" balas Gada dengan sengit. 

"Hei ... apa-apaan kamu? Siapa yang lebih dulu kamu miliki?!" Alsava menatap wajah Gada dengan penuh kebencian. Kedua tangannya di pinggang, menambah kesan feminimnya hilang. 

"Alsava ...! Cuma aku yang bisa milikimu!" sahut Gada dengan nada lembut, ingin menakhlukkan hati Alsava kembali. 

"Lebay ...!" celetuk Alsava sambil berjalan meninggalkan Gada. 

Tatapan sengit Alsava seolah mengiris hati Gada. 

"Siapa yang merubahmu seperti itu?" tanya Gada yang sedang diselimuti api cemburu. 

Alsava tak menjawab. Ia malah menghampiri Renaga, lalu berjalan beriringan meninggalkan lapangan basket. 

Gada semakin berkecamuk, kesalahan setengah malam kini berakibat fatal. 

"Alsava ... silahkan cari cinta yang lain! Biar kamu bisa rasakan, jika cuma cintaku yang dahsyat!" seru Gada dengan nada tinggi. 

Alsava menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke arah Gada. "Wow ... ada pujangga baru di sekolah kita. Ha ha ha ...!" ucap Alsava diiringi tawa kecil. 

"Cabut, Alsava ...!" ajak Renaga sambil menarik tangan Alsava. 

"Ga ...!" Pundak kanan dan kiri Renaga ditepuk seseorang dari belakang. Tanpa menoleh pun, Renaga sudah tahu siapa pelakunya. "Mayosi Club," celetuk Deirda sebelum Renaga membalas panggilannya. 

"Nggak! Aku mau jadi anak baik hari ini. Jauh-jauh dari tempat setengah setan itu!" sahut Renaga dengan santai, seolah mengakui jika club tersebut tak asing baginya. 

Deirda mengerutkan dahinya. "Setengah setan? Kamu tuh setannya!" serunya sambil menoyor dahi Renaga. 

"Tempat apa itu, De?" tanya Alsava. Ia merasa Mayosi Club tersebut sangat asing. 

"Club remaja biasa, kamu mau ikut?" ucap Deirda. 

Alsava dan Renaga saling pandang. 

"Nggak boleh, Alsava! Aku sudah bilang itu tempat setengah setan!" celetuk Renaga.

"Renaga setannya, Al!" Deirda tertawa keras. 

"Kamu setannya, aku malaikat!" sahut Renaga sambil melenggang pergi bersama Alsava. Mereka menuju ke tempat parkir. 

"Eh ... ngapain aku ngikutin kamu? Aku kan bawa sepeda!" ucap Alsava ketika sadar ia mengikuti Renaga ke parkiran mobil. 

"Lain kali nggak usah bawa sepeda. Biar aku samper ke rumah. Kamu kan, sudah putus sama Gada. Jadi aku bebas antar jemput kamu!" pinta Renaga tanpa mengharap apapun dari Alsava, termasuk cinta. 

Alsava menggigit bibir bawahnya. Meskipun ia dan Renaga sudah saling mengenal semenjak TK, namun Alsava tak mau merepotkan Renaga kecuali saat terdesak. 

"Biar sehat. Biar otot-otot kakiku kuat!" tutur Alsava dengan nada sedang. 

Alsava berjalan pergi meninggalkan Renaga, menuju tempat sepedanya diparkir. 

Baru beberapa kayuhan, tepat di depan gerbang sekolah, Alsava mendongak ke atas ketika merasakan setitik air menetes di ujung hidungnya. Langit di atas berwarna kelabu, kilat pun mulai terlihat. 

"Huft! Mana nggak bawa jas hujan!" gerutunya sambil mengayuh sepedanya kembali. 

TIIN ...! TIIN ...! 

Alsava menghentikan sepedanya dan menoleh ke belakang. 

"Renaga," batinnya sambil membenarkan helm sepedanya. 

"Al ... ayo, masuk!" seru Renaga sambil membuka pintu mobilnya. Ia memegangi sepeda Alsava dan berusaha melipatnya. 

Alsava pun reflek meninggalkan Renaga dan masuk ke dalam mobil, karena rintik hujan semakin deras. 

"Al ... tolong bagasi!" seru Renaga sambil mengangkat sepeda Alsava ke arah bagasi mobil. 

Alsava pun dengan cekatan menuju jok pengemudi dan membuka kunci bagasi. 

DUG ...! 

Renaga berhasil memasukkan sepeda lipat Alsava ke dalam bagasi mobilnya. Ia pun segera berlari menuju jok pengemudi. 

Alsava salah tingkah melihat rambut Renaga yang basah. Ia pun meraih beberapa lembat tissue kering di jok penumpang belakang, lalu mengusap rambut Renaga. 

"Desember ... bikin orang susah aja. Hujan nggak pandang waktu!" gerutu Alsava sambil meraih beberapa lembar tissue kembali untuk mengusap wajah Renaga. 

"Huss ...! Nggak boleh begitu. Hujan itu nikmat!" timpal Renaga sambil melajukan mobilnya. 

"Iya sih, nikmat! Tapi kalau nggak tepat datangnya ya bukan nikmat lagi! Coba nggak ada kamu, aku sudah basah kuyup. Kalaupun berteduh, pulangku juga akan telat!" gerutu Alsava untuk kesekian kali. 

"Allah Maha Tahu, Alsava. DIA sudah mengirim aku untuk jadi malaikat penolongmu!" celetuk Renaga dengan nada rendah. Sesekali ia pun menoleh ke arah spion mobil. 

"Mau nyaingin Gada, ya? Jadi pujangga?" ejek Alsava sambil membuang muka. 

Hujan semakin deras dan jarak pandang pun semakin minim. Renaga pun melajukan mobilnya dengan pelan, tak lupa pula menyalakan lampu hazard. 

"Al ... kamu mau langsung pulang?" tanya Renaga tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Ia sedang fokus dengan kemudi mobilnya. 

"Iya. Ini di rumahku nggak hujan. Mendung saja!" sahut Alsava. 

"Tahu dari mana?" keryit Renaga. 

"Story tetangga sebelah!" Alsava menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Aman jemuran pakaianku!" akunya. 

*** 

Gada bersadar pada sandaran jok mobilnya yang diparkir di taman warga seberang rumah Alsava. Akhir-akhir ini, taman warga tersebut menjadi tempat favorit Gada untuk memantau Alsava. Saat ini, matanya lekat menatap mobil yang baru saja berhenti di depan rumah Alsava. Mobil yang tak asing lagi bagi Gada. 

Gada menegakkan badan ketika melihat Alsava dan Renaga keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Mereka pun tampak sedang bercanda dan saling melempar senyum ketika membuka bagasi mobil Renaga. 

Gada memincing tak suka, hatinya meronta tak terima setiap kali melihat Alsava terlihat akrab dengan lelaki selain dirinya. 

"Alsava hanya milikku!" gerutunya sambil membanting pintu mobil dan berjalan menuju ke arah Alsava. 

"Gada!" ucap Renaga yang lebih dulu melihat Gada menuju ke arahnya.

"Sengaja lewat atau kebetulan aja, nih?" tanya Alsava dengan nada rendah. Ia tak ingin membuat keributan dan didengar oleh tetangganya. 

"Sengaja!" sahut Gada sambil menarik kerah baju Renaga bagian depan. 

"Hei ...! Apa-apaan kamu!" pekik Alsava sambil menarik tangan Gada. "Di mana harga dirimu sebagai lelaki!" lanjutnya. 

"Renaga ... peringatan terakhir untukmu! Jauhi Alsava!" ancam Gada dengan penuh kebencian. 

Renaga tersenyum mengejek. 

"Kalau aku lebih nyaman sama Renaga, mau apa kamu ... Gada?!" celetuk Alsava. 

"Nggak bisa! Aku tuh cinta berat sama kamu!" jelas Gada dengan nada standard. 

Alsava tertawa lebar. Ia tak tahu lagi, kalimat seperti apa yang hendak dipilih supaya Gada tak lagi mendekatinya. 

"Kamu manusia, kan? Berarti kamu paham bahasa manusia, kan?" ejek Alsava sambil mengelus pipi Gada. 

Kemarahan tampak terpancar dari mata Gada. Sedangkan Renaga, bersandar santai di badan mobilnya sambil mengawasi sepasang kekasih yang sedang bermusuhan. 

"Aku tuh benci kamu!" pekik Alsava sambil menampar keras pipi Gada. Bola mata Alsava seolah hendak keluar dari tempatnya. "Kamu tuh manusia jahat. Manusia yang nggak punya hati nurani! Paham? Paham kamu Gada?!" Alsava berteriak keras. Beberapa tetangganya pun mengintip dari jendela atau pun pintu untuk mengetahui apa yang terjadi di luar. 

Renaga salah tingkah. Ia berjalan menuju Alsava. 

"Al ... kecilin volumenya. Kamu nggak malu sama tetanggamu?" bisik Renaga. 

"Gada ...! Kamu jangan temui Alsava dulu. Alsava lagi benci-bencinya sana kamu! Cari waktu yang tepat, lah! Mosok buaya kalah sama kadal!" Renaga menaikkan kedua alisnya. 

Gada pun meninggalkan Alsava tanpa kata-kata. Hatinya benar-benar meronta, sakit dan merasa terinjak-injak.  

"Selama air laut masih asin. Selama langit tak bisa diraih ... kamu tetap milikku, Alsava!" gerutu Gada sambil membanting pintu mobil untuk kedua kalinya. 


***
ALSAVA - Part 7

Posting Komentar untuk "ALSAVA - Part 6"