ALSAVA - Part 2
Masih Perawan
Alsava membuka cutter tersebut, lalu mengangkat pergelangan tangan kirinya yang sudah tertempel mata cutter.
"Lebih baik aku mati, daripada aku harus bersamamu!" Mata Alsava memerah, amarah pun tampak sangat jelas.
Ferro beranjak dari tempat tidur dan menepis kuat-kuat cutter dari tangan Alsava.
"Jangan bodoh kamu!" bentak Ferro sambil membanting cutter dengan kuat, hingga cutter mengenai kaca rias Alsava dan menimbulkan suara.
"Ada apa ini?" Keke, ibu Alsava datang sambil terengah. Ia baru saja pulang dari kantor.
"Ibu ...!" ucap Alsava sambil berlari ke arah ibunya. "Nggak ada apa-apa, Bu. Aku hanya ingin putus sama Ferro, tapi Ferro keras kepala!" Alsava sengaja mengucapkan hal seperti itu kepada ibunya, berharap Ferro malu dan segera pergi meninggalkan rumahnya.
"Ibu kira ... anak ibu sudah dewasa!" Keke duduk di single sofa dalam kamar Alsava, raut wajahnya terlihat biasa saja. Ia mengira Alsava dan Ferro hanya selisih paham.
"Maaf, Ibu. Tapi aku ... ah!" Alsava mengacak-acak rambutnya, ia lalu berlari keluar kamarnya. Keke pun segera menyusul Alsava setelah usai berbincang sejenak dengan Ferro.
"Alsava ...!" Keke membelai lembut kepala Alsava yang terduduk lesu di meja makan.
"Bu ... apa Ferro sudah pulang?" tanya Alsava dengan mata sembab.
Keke mengangguk perlahan.
"Ini kecerobohanku, yang sering lupa mengunci pintu!" Alsava menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Alsava ... kamu sudah dewasa. Mantabkan pilihan hatimu. Jangan lagi mempermainkan perasaan lelaki lain di luar sana. Carilah cinta sejatimu!" ucap Keke sambil menangkup sebagian wajah putri tunggalnya tersebut.
Alsava menatap lembut wajah ibunya. Ia tak kuasa menahan air mata ketika empat mata saling beradu.
"Ibu ...!" Alsava menyerongkan posisi duduk, lalu menggenggam erat tangan ibunya. "Aku belum bisa menentukan pilihan. Aku hanya ingin bebas saja untuk saat ini, terutama dari Ferro!" celetuk Alsava, yang membuat Keke sedikit bingung.
"Kenapa menangis?" keryit Keke. "Bukankah hanya Ferro yang akhir-akhir ini dekat denganmu?" lanjutnya.
"Sudah-lah, Bu. Nggak usah ngebahas hal itu!" sahut Alsava sambil meraih kedua tangan ibunya, lalu digenggamnya erat.
"Kamu sudah dewasa, Alsava! Sudah waktunya untuk mengakhiri permainan-permainan konyolmu! Ibu juga sudah ingin menimang cucu!" ucap Keke dengan nada standard. Ia paham jika selama ini Alsava senang mempermainkan hati lelaki yang menyukainya.
Alsava menatap wajah cantik sang ibu yang terlukis guratan lelah dengan jelas. Dia tahu, jika selama ini sang ibu juga menahan beban mental atas kelakuannya.
"Alsava, kamu masih ...."
"Aku masih perawan, Ibu!" Alsava memotong ucapan Keke. Pertanyaan yang sering dilontarkan ketika memberi advis kepada sang anak.
"Terima kasih, Sayang ...!" Keke memeluk erat tubuh mungil putri tunggalnya.
Alsava membalas pelukan sang ibu. Ia sadar jika kelakuannya selama ini telah membuat sang ibu cemas, bahkan menjadi beban pikiran.
Sesaat, Keke melepaskan pelukannya lalu menepuk-nepuk bahu Alsava.
"Alsava ... berjanjilah untuk menjadi wanita baik-baik. Pilihlah lelaki yang benar-benar mencintaimu, bukan lelaki yang kamu cintai!" Keke kembali beradvis.
Alsava menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya.
"Huft ...!" Alsava mengembuskan napas dengan kasar. "Tadi Ibu menyuruhku untuk mencari cinta sejatiku. Sekarang ... Ibu menyuruhku memilih lelaki yang benar-benar mencintaiku, bukan lelaki yang aku cintai!" Alsava memutar bola matanya yang masih sembab.
Keke tersenyum tipis. "Pasti kamu paham, apa maksud Ibu!" ucap Keke sambil menepuk-nepuk bahu Alsava.
Alsava kembali flashback tentang masa lalunya. Masa-masa indah yang kadang menorehkan luka.
"Cinta itu tak perlu dicari. Jika sudah saatnya nanti, cinta akan datang sendiri. Tapi ... apa akan ada cinta yang singgah lagi, sedangkan diriku sudah terlanjur seperti ini!" batin Alsava sambil menunduk dan memainkan jari-jemarinya.
"Alsava ...!" Keke memberikan sebuah cangkir berisi jahe hangat kesukaan Alsava.
"Ah, Ibu. Aku jadi sungkan. Seharusnya aku yang menyuguhkan ini kepada Ibu. Bukannya Ibu menyuguhkan untukku. Serasa jadi anak durhaka deh, aku!" celetuk Alsava sambil berdiri dan mengambil cangkir dari tangan Keke.
"Sudahlah ... minum saja. Ibu tahu kamu sedang gundah!" Keke menyunggingkan senyum tipis.
"Baiklah, aku minum! Sekarang ... aku yang membereskan dapur dan menyiapkan makan malam untuk kita!" Senyum lebar Alsava tersirat jelas. Ia tak ingin lagi menyakiti hati ibunya, meskipun hatinya sendiri kosong, cintanya hilang dan seolah hidupnya tak ada lagi harapan akan cinta.
"Oh, tidak perlu! Nanti kita diundang makan malam oleh Mr. Ruwel," sahut Keke sambil mengikat rambut panjangnya yang sempat terurai setelah mendengar keributan di kamar Alsava tadi.
"Mr. Ruwel? Atasan Ibu yang baru saja menduda beberapa bulan yang lalu?" Alsava mengerutkan dahinya. Ia yakin ada sesuatu di balik ajakan makan malam tersebut.
Keke mengangguk perlahan.
"Aku rasa, ini ajakan istimewa. Ibu pasti lagi ...." Alsava memainkan matanya.
"Lagi apa?" tanya Keke dengan cepat.
"Kalian lagi PDKT, ya?" tanya Alsava tanpa merasa berdosa.
Keke menarik nafas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menatap wajah Alsava, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ibu sudah tidak muda lagi!" celetuk Keke sambil mencubit pipi Alsava. "Kalau Ibu mau ... sudah dari dulu Ibu cari pendamping lagi!"
Alsava tersenyum tipis. "Apa Ibu nggak ada harapan untuk cinta lagi?" goda Alsava.
Keke diam sejenak, mengambil napas dalam-dalam dan menata hatinya.
"Ibu tipe setia!" Senyum Keke tampak jelas. "Makanya Ibu berharap kamu juga jadi wanita setia, bukan wanita yang hobi mempermainkan hati lelaki!" sindir Keke, namun tak bermaksud melukai hati Alsava.
Alsava meneguk minuman jahe hangat dengan cepat. Ia ingin menetralkan pikirannya sejenak, lalu membalas ucapan ibunya tanpa emosi.
"Iya aku paham, Ibu! Tapi ... aku rasa nggak ada salahnya aku bermain hati dengan siapapun sekarang ini. Aku masih free ... ha ha ha! Artinya aku belum menikah, belum ada yang memilikiku. Lain halnya jika aku sudah menikah nanti. Aku pasti bisa seperti Ibu, tipe setia!" sahut Alsava.
"Bagus, Alsava! Cepat mandi sana! Ibu nggak mau datang terlambat ke acara makan malam Mr. Ruwel. Eits ...! Tidak hanya kita berdua yang diundang, tetapi hampir seluruh staff dan keluarga staff!" ujar Keke sambil beranjak meninggalkan Alsava di meja makan.
Alsava pun juga beranjak ke kamarnya. Pikirannya kembali gundah setelah melihat cermin di meja riasnya retak terkena cutter yang ditepis Ferro. Pikirannya kembali menerawang ke masa-masa SMA-nya. Masa-masa indah yang lambat laun membawa dirinya menjadi penjajah cinta yang liar.
"Seandainya waktu bisa aku ulang ... aku nggak akan pernah melakukan satu hal yang membuatku menangis jika mengingat hal itu!" batin Alsava sambil menyeka air matanya.
***

Posting Komentar untuk "ALSAVA - Part 2"