ALSAVA - Part 3
Flashback Awal
Mulai part ini ... Alsava flashback masa lalunya yang hobi menjadi penjelajah cinta.
***
Gada memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah SMA swasta di ibukota. Ia hendak menuntut ilmu di sana, namun fasilitas yang ia gunakan bak seorang CEO yang memiliki sekolah tersebut.
Berpasang-pasang mata para gadis SMA yang menatapnya tak membuat dirinya salah tingkah. Menurutnya, gadis-gadis tersebut tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Alsava, gadis lugu yang penuh pesona.
Gada membelokkan langkah kakinya ketika melihat Alsava berjalan seorang diri menuju gedung perpustakaan.
"Alsava ... apa kabarmu hari ini?" sapa Gada sambil menepuk pundak Alsava.
"Owh ... Gada! Bisa nggak, nyapa baik-baik? Jantungku hampir copot setiap kamu menyapaku!" kelakar Alsava sambil mengerucutkan bibirnya.
"Pagi-pagi sudah hyperbole saja kamu, Sayang," sahut Gada sambil tersenyum manis.
Alsava tak menjawab ucapan Gada. Ia hanya melipat bibir tipisnya ke dalam untuk menyembunyikan senyumnya.
"Oh iya, kenapa kamu nggak membalas pesanku dan juga nggak mengangkat telponku, Sayang?" lanjut Gada tanpa merasa bersalah.
"Hentikan panggilan seperti itu! Aku nggak suka!" sungut Alsava sambil membalikkan tubuhnya dan menjauh dari Gada.
Gada berusaha mengejar Alsava, kemudian meraih tangan kanan Alsava. Namun, Alsava menepis tangan Gada dengan kasar.
"Apa salahku, Sayang?" keryit Gada sambil mengingat-ingat kesalahannya kepada Alsava. Namun sayang, ia pun tak berhasil untuk mengingat.
"Sayang?!" sungut Alsava. "Apa hakmu panggil aku sayang?" ucapnya sambil mendorong tubuh Gada, namun tubuh Gada tak goyah sama sekali.
"Aku pacarmu. Jelas hakku donk ...!" sahut Gada dengan penuh percaya diri.
"Sudahlah ... nggak perlu kamu berpura-pura di depanku! Aku nggak pernah mencintaimu lagi mulai detik ini!" pekik Alsava dengan nada keras, tak peduli dengan berpasang-pasang mata yang perhatiannya mulai tertuju kepadanya.
"Pura-pura apa maksudmu? Kamu tuh ... cinta pertamaku!" Gada membela dirinya sendiri dengan rangkaian kata yang kurang romantis.
"Owh ...!" Alsava mengangkat kepalanya. Mata elangnya menatap tajam wajah Gada yang ketampanannya di atas standard. "Jika aku cinta pertamamu ... lalu gadis yang bersamamu semalam itu, cinta ke berapamu?"
DEG ...!
Dada Gada berdetak kecang, bagai tabuhan genderang yang mengiringi perang. Ia pun menarik napas panjang sambil memejamkan mata.
"Semalam? Di SPARK?" tanya Gada dengan nada suara rendah, tetapi matanya terbelalak lebar.
"Menurutmu di mana?" tantang Alsava.
"Sayang ... kita bicarakan baik-baik. Jangan di sini. Kalau kamu marah denganku, silahkan saja! Tapi aku nggak mau orang lain tahu masalah kita!" rayu Gada dengan nada rendah. Ia tak mau Alsava marah dan disaksikan banyak orang.
Alsava memutar bola matanya, sekilas ia melihat Renaga dari kejauhan sedang berjalan ke arahnya. "Andai aku tak menolak cintamu ... Renaga!" batin Alsava sambil menggigit bibir bawahnya.
"Pagi Renaga ...!" sapa Alsava kepada Renaga yang sedang berjalan melewatinya.
"Pagi Alsava," sahut Renaga sembari berjalan.
"Buru-buru amat sih, Renaga?" seru Alsava kepada Renaga, lelaki tampan yang ia kenal sejak masih TK.
"Aku hanya nggak mau mengganggumu dengan Gada!" sahut Renaga tanpa menatap wajah lawan bicaranya.
Alsava menarik tangan Renaga dengan cepat.
"Hei ...!" Gada memisahkan kedua tangan tersebut dengan cepat.
"Kamu!" sergah Alsava. "Kamu tahu, Renaga itu teman baikku?"
"Iya, tahu! Tapi teman baik nggak perlu pegang-pegang tangan, kali!" ketus Gada.
"Oh ... begitu? Lalu ... kalau berpeluk-pelukan itu apa? Cium-ciuman di depan teman-temanmu ... lalu saling menyoraki!" pekik Alsava.
"Sayang ... kamu salah paham!" bujuk Gada dengan nada rendah. "Biar aku jelaskan dulu."
"Aku nggak butuh penjelasanmu!" Alsava pun berlari ke arah Renaga.
Renaga menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya.
"Renaga, jangan campuri urusanku dengan Alsava!" ancam Gada yang tak membuat gentar Renaga.
Renaga menghela napas pelan. "Kamu jangan sakitin hati anak orang, Gada!"
"Bukan urusanmu!" sahut Gada. "Alsava ... hari ini kita bolos saja! Aku ingin bicara denganmu! Aku nggak mau marahan terlalu lama!" lanjut Gada.
"Baiklah!" Alsava menerima tantangan Gada. Ia benar-benar ingin menyelesaikan masalahnya dengan Gada hari ini.
Gada pun meraih tangan Alsava, namun Alsava segera menangkisnya.
"Renaga, tolong urusin surat izinku hari ini," pinta Alsava dengan nada rendah. "Aku janji, hari ini terakhir kali aku merepotkanmu!"
Renaga menggelengkan kepalanya, namun ia tak menolak permintaan Alsava.
"Nggak mau?!" jelas Alsava sambil menatap wajah Renaga, penuh harap.
"Aku membantumu berbohong untuk terakhir kali hari ini!" sahut Renaga. Ia pun bergegas meninggalkan Alsava dan Gada.
"Kita ke apartment!" ajak Gada.
"Nggak mau!" tolak Alsava dengan kasar. "Apa kata orang-orang nanti tentang kita?" lanjutnya sambil berjalan menuju parkiran.
"Jangan dengar kata mereka!" celetuk Gada yang berjalan mengiringi Alsava.
"Aku makhluk sosial yang menjunjung tinggi norma!" tegas Alsava.
"Mobilku di sana!" Gada mendahului Alsava sambil menunjuk ke arah mobilnya diparkir.
"Iya, aku paham! VVIP, kan?" dengus Alsava sambil membuang muka.
"Lalu ... kenapa kamu berjalan ke arah sini?" keryit Gada.
"Ganti suasana!"
Gada tak berani berkata-kata lagi, ia mulai sadar jika berpasang-pasang mata telah memperhatikannya.
"Alsava ...!" sapa lelaki dari kelas lain.
Alsava tak menyahut dan tak memperdulikan sapaan tersebut.
"Jangan ganggu pacarku!" kelakar Gada sambil menatap bengis wajah lelaki tersebut.
"Palingan juga putus sebentar lagi!" balas lelaki tersebut dengan nada tinggi, seolah-olah ingin menantang Gada.
"Gada!" bentak Alsava sambil menoleh ke arah Gada.
Alsava cemberut dan mempercepat langkah kakinya. Gada mengejar Alsava, hingga ia lupa dengan niatnya untuk menghajar lelaki dari kelas lain yang membuatnya murka.
Gada membukakan pintu mobil untuk Alsava. Seperti biasa, Alsava pun memasuki mobil mewah tersebut bak putri raja.
"Ke restaurant?" Gada memincingkan matanya sembari menyalakan mesin mobil.
Alsava menggeleng. "Kita bolos sekolah. Apa otakmu sudah nggak bisa berpikir?"
Gada diam sejenak. Logikanya tak jalan atas tolakan Alsava.
"Kamu sudah sarapan?"
Alsava menggeleng.
"Oke ... ke restaurant!" ucap Gada sambil melajukan mobilnya.
Alsava kembali menggelengkan kepalanya. "Bukan impianku, punya pendamping bodoh sepertimu!" ucapnya dengar kasar.
Gada terdiam, mengalah daripada amarah Alsava memuncak. Ia pun mulai bisa berpikir, kenapa Alsava tak mau diajak ke restaurant.
"Maafkan aku, Sayang! Aku tahu kok, kita harus bicara di mana!" ucap Gada ketika melihat amarah Alsava mulai reda. "Kebun teh, ya!" lanjut Gada.
"Tidaaakkk ...!" teriak Alsava sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
Gada kaget, namun ia tetap berusaha untuk menguasai mobilnya.
"Turunkan aku di TPU Menur!" pinta Alsava dengan kasar.
Gada mengangguk, lalu melajukan mobilnya ke arah TPU Menur. Ia teringat, jika ayah Alsava baru saja berpulang sepuluh hari yang lalu.
***

Posting Komentar untuk "ALSAVA - Part 3"