Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ALSAVA - Part 1

 


Penyesalan


"Dueer ...!" 

Alsava membanting pintu kamarnya, kemudian ia duduk di sebuah kursi rotan yang berada di depan jendela kamar. 

Wajah cantik itu terlihat kusut, dengan rambut terurai tak beraturan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, namun sorot matanya menunjukkan kepedihan yang mendalam. Tangan kirinya memegang sebuah foto yang sengaja selalu ia simpan. Foto ketika ia masih berseragam SMA dan bersanding dengan seorang lelaki tampan yang kini entah ke mana. 

"Kuakui ... kamu memang lelaki tampan. Tapi kamu lelaki terkejam. Huft ... sebuah kebodohan abadi jika aku tetap menyimpan rasa terhadapmu!" kelakar Alsava. Ia lalu meraih sebuah gunting kertas yang berada di depan meja riasnya. 

Gunting pun ia mainkan untuk memisahkan foto dirinya dan lelaki tampan itu. Ia tertawa lebar, namun terdengar memilukan. 

"I don't need a man like you! Ha ha ha ...!" sungut Alsava sambil meremas dan membuang foto lelaki tersebut pada tempat sampah di sudut kamarnya. 

"Alsava ... Alsava!" panggil seseorang sambil mengetuk pintu. 

Alsava menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menoleh ke arah pintu, seolah tak suka dengan suara yang didengarnya. 

"KREEK ...!" 

Alsava terpenjarat, mulutnya menganga seolah hendak memangsa seseorang yang baru saja membuka pintu kamarnya. 

"Hai ... keluar!" seru Alsava sambil menunjuk ke arah pintu. "Aku nggak mengizinkan siapapun masuk ke kamarku!" lanjutnya. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak mengunci pintu kamar.

"Hai Sayang ... I miss you so much!" seru Ferro sambil merengkuh tubuh mungil Alsava. 

"Lepaskan aku ...!" Alsava memberontak melepaskan rengkuhan Ferro dengan kasar. 

"Alsava ... apa kamu nggak merindukanku? Sudah lama lho, kita nggak ketemu. Ingin rasanya aku melepas rindu denganmu!" ucap Ferro sambil merengkuh tubuh Alsava, kemudian membanting tubuh mungil itu di atas tempat tidur. 

Alsava terpenjarat. Ferro dengan cepat menggeser posisi tubuhnya di atas tubuh Alsava. 

"Mau apa kamu!" sentak Alsava. 

Ferro menyambar bibir tipis Alsava tanpa aba-aba. Alsava sempat menikmatinya beberapa detik. Namun, Alsava langsung mendorong tubuh Ferro, hingga Ferro pasrah dan jatuh tepat di samping kanan Alsava. 

Alsava tersenyum sengit. Ia menaiki tubuh Ferro yang sedang terbaring di tempat tidurnya. 

"Apa kamu lupa, Ferro?" tanya Alsava sambil memainkan bibir Ferro dengan ujung jari telunjuknya. 

Ferro tersenyum, mengira jika Alsava masih menganggapnya sebagai kekasih. 

"Aku dan kamu ... putus! Aku sudah bosan sama kamu!" Alsava beranjak dari tubuh Ferro, kemudian mendaratkan tubuhnya di atas kursi rotan. 

Ferro terpenjarat. Seketika ia beranjak ke arah Alsava, sedikit merendahkan tubuhnya dan mengalungkan kedua lengannya ke leher Alsava. 

"Aku nggak mau melepasmu begitu saja! Karena kamu ... begitu indah untukku!" ucap Ferro sambil mengecup kening Alsava. 

"Pergi kamu!" seru Alsava sambil mendorong tubuh Ferro, lalu menyeka kening yang tadi dikecup Ferro. 

Ferro mendengus keras, seolah ingin menunjukkan kemarahannya kepada Alsava. 

"Huft ...! Apakah kamu sudah nggak cinta uangku lagi?" sindir Ferro dan berhasil memekakkan telinga Alsava. 

Alsava melebarkan mata sambil menggeleng tegas. "Kamu pikir ... uang segalanya bagiku? Ha ha ha ...!" Alsava tertawa lebar. "Apalah arti uang jika cinta itu tak lagi ada?!" lanjut Alsava. 

"Hei ... apa kamu lupa, berapa uangku yang mengalir deras ke kamu?" ungkit Ferro. 

Alsava beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan perlahan untuk membuka pintu kamarnya lebar-lebar, bersiap untuk mengusir Ferro. 

"Apa aku pernah minta uang kepadamu?" Alsava tersenyum menghina. Ia memang tak pernah sekalipun meminta uang atau pun barang kepada Ferro, namun Ferro-lah yang selalu memberi. 

"Alsava ...!" seru Ferro sambil melotot tajam ke arah Alsava. 

"Apa? Kamu kira, cintaku bisa kamu beli dengan uangmu? Kamu kira, selama ini aku tulus mencintaimu? Tidak ...!" dengus Alsava. "Aku hanya terlalu susah untuk menjauh darimu!" lanjut Alsava. 

"Kamu ...!" Ferro menunjuk hidung Alsava. Tatapan matanya menunjukkan kemarahan yang seolah tak bisa terbendung lagi. "Apa karena lelaki kampungan itu kamu berani kurang ajar sama aku!" 

"Lelaki kampungan? Siapa?" Alsava mengeryitkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang diucapkan Ferro. 

"Jangan pura-pura bodoh! Ntar bodoh beneran, kamu!" sentak Ferro sambil menendang tempat sampah di kamar Alsava. 

"Hei ...! Nggak sopan amat, kamu!" seru Alsava. "Bereskan lagi sampah-sampah yang berantakan karena ulahmu! Apa lelaki sepertimu pantas untuk dicintai? Huft!" lanjut Alsava. 

Ferro mendekat ke arah Alsava. "Atas dasar apa kamu memerintahku?" Ferro pun seketika meraih bibir tipis Alsava, melumatnya menggebu tanpa jeda. Alsava pun menanggapinya dengan kasar, tak lagi berpura-pura menikmati permainan dari Ferro. 

Alsava mendorong wajah Ferro dengan kasar, mengusap permukaan bibirnya yang basah karena Ferro. 

Di sisi lain, Ferro melirik gundukan besar yang tersaji tepat di hadapannya. 

"Alsava ...?" cetus Ferro. Tangannya hendak menyentuh lembut gundukan tersebut. Namun sayang, Alsava lebih dulu menangkis tangan Ferro. 

"Hentikan semua itu! Aku nggak butuh, apalagi uangmu!" tutur Alsava sambil menyunggingkan senyum sinis. 

Namun Ferro tak menyerah begitu saja. Ia langsung menyambar leher Alsava dengan kecupan-kecupan menggebu. Bahkan tangan Ferro sudah bersiap meraih gundukan di dada Alsava, namun tangan Alsava lebih cepat mencengkeram kuat tangan Ferro. 

"Ferro ... bisakah kita bicara baik-baik?" ucap Alsava sambil tersenyum tipis. Senyum itu terlihat jelas hanyalah sebuah gimik. 

"Apa, sayang? Kamu mau liburan ke mana? Mau tas model apa? Pasti aku kasih!" sahut Ferro sambil merebahkan tubuhnya di atas  tempat tidur Alsava. 

Alsava menggelengkan kepalanya perlahan. Sebuah senyum tipis kembali tersunging. 

"Ferro ... cinta itu bukan harta. Aku nggak silau sama hartamu! Kamu kira ... aku akan luluh dengan uang dan barang-barang mewah darimu?" ucap Alsava, tanpa menggeser posisi berdirinya. Mata elangnya tetap menatap tajam wajah Ferro. 

"Nggak usah munafik, Sayangku!" celetuk Ferro sambil memejamkan matanya. 

Alsava menghela nafas sejenak. Ia pun mundur beberapa langkah untuk menyandarkan tubuhnya di tembok kamar. 

"Aku hanya nggak bisa menghindar darimu saja!" sergah Alsava. 

"Bagaimana bisa? Lantas ... apa maksudmu mau melayaniku di saat kita liburan bersama?" terang Ferro. "Sudahlah ... nggak perlu merajuk lagi. Kamu akan bahagia jika bersamaku. Apa pun yang kamu minta, pasti aku beri. Nggak perlu kamu bekerja, apalagi bersusah payah hanya demi mencari uang!" lanjut Ferro. 

Alsava menggelengkan kepalanya. "Dari dulu kamu memaksaku. Kamu nggak pernah dengarin aku!" 

"Alsava ... banyak wanita yang kurang beruntung di luaran sana. Tapi kenapa, kamu malah nggak mau diuntung?" Ferro menyunggingkan senyumnya, berbesar kepala seakan Alsava masih mau tunduk dan menjadi miliknya. 

"Ferro ...!" Mata Alsava terbelalak lebar. Ia pun bergegas mengambil cutter yang ada di meja riasnya. 


***

ALSAVA - Part 2


Posting Komentar untuk "ALSAVA - Part 1"