ALSAVA - Part 4
Alasan Putus
Gada segera mencari tempat parkir mobil ketika sampai di TPU Menur. Alsava segera menuruni mobil ketika Gada berhasil memarkir mobilnya.
Gada pun dengan setia mengikuti langkah seribu Alsava, menuju pusara sang ayah yang baru beberapa hari meninggalkannya.
Sesekali Alsava terisak, padahal ia sudah berniat untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Semua itu butuh proses!" batin Alsava sambil menyeka air matanya.
Langkah kaki Alsava berhenti pada sebuah pusara yang terlihat masih basah. Ia duduk bersimpuh sambil mengusap nisan nama sang ayah.
Gada tak bisa berucap sepatah katapun. Memeluk tubuh mungil Alsava pun ia tak sanggup. Ia tahu persis bagaimana watak Alsava.
Bibir Alsava bergetar, air mata mengalir deras. Ia teringat masa-masa indah bersama sang ayah.
"Alsava ...." Gada menyeka air mata di pipi Alsava, namun tangan Alsava menangkis dengan cepat.
"Jangan sentuh aku!" ucap Alsava dalam tangis. "Kamu sudah menodai kepercayaanku!"
Gada terdiam. Ia kembali mengingat-ingat kesalahannya sambil memainkan jari telunjuknya.
"Owh ... mungkin kemarin malam ketika aku di pesta ulang tahun Brata. Semalan di SPARK aku nggak pegang gadis lain," batin Gada yang mulai menyadari kesalahannya. "Tapi, bagaimana Alsava tahu? Aku nggak pernah mengatakan tentang ulang tahun Brata kepadanya."
Alsava menyeka air matanya setelah ia puas menumpahkan tangisnya. Ia kembali mengusap nisan sang ayah sebelum beranjak meninggalkannya.
"Alsava ... kamu mau ke mana?" tanya Gada dengan penuh kehati-hatian.
Alsava tak menghiraukan pertanyaan Gada, malah ia mempercepat langkah kakinya.
"Aku antar pulang, ya?" Gada kembali bertanya kepada Alsava, namun tak juga dihiraukan.
Alsava mencoba menata hatinya. Ia ingat pesan sang ibu, jika harus bangkit biarpun sang ayah telah tiada.
"Gada ... kita bicara di mobil saja! Aku nggak sanggup menahan beban yang mengganjal!" ucap Alsava dengan lirih.
Gada merasa lega dengan jawaban yang terlontar dari mulut Alsava.
"Baiklah! Tapi kamu makan dulu, ya! Tadi bundaku menitipkan makanan untukmu," ucap Gada.
Nama Alsava tak asing lagi bagi keluarga Gada, biarpun mereka belum pernah saling bertemu. Cerita Gada tentang Alsava berhasil meluluhkan hati orang tua Gada.
"Aku nggak lapar!" sahut Alsava dengan nada suara rendah, bahkan nyaris tak terdengar oleh Gada.
Kebisuan pun kembali terjadi ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Gada merasa iba dengan Alsava, yang kini menyandang sebutan anak yatim.
"Alsava ... ini." Gada memberikan tissue basah kepada Alsava, namun Alsava menggeleng dan mengambil tissue basah dari tasnya sendiri.
"Gada ... kita putus, ya!" ucap Alsava dengan suara tenang, menunjukkan sebuah ketegasan.
Gada membelalakkan matanya. "Aku tahu kamu masih dalam suasana duka. Jika ingin meluapkan sedihmu kepadaku, silahkan! Tapi aku nggak mau kamu ambil keputusan sepihak tanpa pertimbangan!"
"Gada, hentikan ceramahmu! Aku nggak akan putusin kamu tanpa sebab!" pekik Alsava dengan tegas, tanpa ada sisa-sisa air mata.
"Aku nggak ngerti," ucap Gada sambil mengusap rabut panjang Alsava, namun Alsava menepisnya dengan keras.
"Nggak ngerti? Kamu bener-bener nggak ngerti selama ini?" Alsava menatap tajam wajah Gada dengan matanya yang sembab. Ketegaran tetap tampak di guratan wajah Alsava.
Gada menatap wajah Alsava dengan penuh kasih, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.
"Oke, dengarkan baik-baik!" Alsava menatap wajah Gada dengan tegas. "Selama ini, aku percaya sepenuhnya kepadamu! Kamu cinta aku dan aku cinta kamu! Jujur ya ... selama setahun kita bersama, apa pernah kamu mencium bibirku?"
Gada menggelengkan kepalanya. Selama ini ia dan Alsava hanya sebatas bergandengan tangan saja, karena ia benar-benar mencintai Alsava dan ingin menjaga Alsava sepenuhnya.
"Apa pernah, aku berpelukan denganmu di depan teman-teman?" kata Alsava dengan tegas.
Gada kembali menggelengkan kepalanya.
"Apa pernah, aku tidur satu ranjang denganmu?" lanjut Alsava dengan nada yang lebih tinggi. Matanya yang sembab kini bertambah merah karena amarah.
Gada pun menggeleng.
"Lalu ... apa yang kamu lakukan kemarin malam dengan perempuan itu?" pekik Alsava.
"Aku ... aku ...." Gada tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah! Kamu memang lelaki yang nggak pantas aku cintai. Sebelum aku terlarut dalan cintamu, lebih baik aku akhiri saja semua ini. Percuma ... jika dilanjutkan!" ucap Alsava dengan nada standard.
"Alsava ... sudah selesai kamu bicara?" tutur Gada dengan lembut.
"Belum!" sahut Alsava dengan tegas. "Kamu tahu kan, aku masih dalam suasana duka? Aku kira ... kamu menghargai perasaanku. Tapi ternyata, aku salah! Kamu justru memanfaatku dukaku untuk kesenanganmu. Mungkin ... inilah cara Tuhan memberiku petunjuk, jika kamu bukanlah lelaki yang baik untukku!" terang Alsava dengan tegas.
Gada menepukkan tangan kanannya pada setir mobil. Ia tak tahu, penjelasan untuk Alsava akan dimulai dari mana.
"Alsava ... dengarkan dulu penjelasanku!" pinta Gada dengan penuh harap.
Alsava memalingkan wajahnya dari Gada. "Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi!"
Gada menarik-narik rambutnya. Raut sedih dan penyesalan pun tampak di guratan wajahnya.
Alsava melirik ke arah Gada. "Baiklah, aku kasih kesempatan ke kamu untuk menjelaskan. Lima menit dan itu tidak lebih!" kata Alsava, namun ia akan tetap memutuskan hubungan dengan Gada.
"Iya, aku akui," ucap Gada dengan nada rendah, bahkan hampir tak terdengar oleh Alsava.
"Tolong bicara yang jelas!" terang Alsava.
"Aku hanya ngikutin challenge saat ulang tahun Brata. Alsava ... percayalah, aku hanya cinta kamu!" jelas Gada.
"Challenge?" Alsava mengerutkan dahinya.
"Iya. Aku mengikutinya hanya untuk menghargai acara Brata."
"Apa kamu tidak bisa menolak?" tanya Alsava tanpa menatap wajah Gada.
Gada menggeleng. "Brata teman SMP-ku. Kemudian dia melanjutkan sekolah di luar negeri. Kemarin itu pertemuanku pertama kali dengan Brata semenjak dia sekolah di luar negeri. Jadi ... aku menghargai acara Brata!" terang Gada dengan jujur.
"Menghargai dengan cara tanpa norma?" tukas Alsava.
Gada menggelengkan kepalanya.
"Menjijikkan ...! Nggak pernah sedikitpun terbersit di pikiranku untuk menghianatimu, Gada! Tapi kamu ... lebih dulu menghianatiku! Kamu lebih pilih menghargai acara ulang tahun temanmu dengan cara yang menjijikkan, daripada menghargai dukaku!" Air mata kembali menetes di pipi Alsava.
DEG ...!
Gada merasa terpukul dengan kalimat terakhir Alsava. Ia menyesal, tak berpikir panjang akan sebabnya.
Alsava menyeka air matanya. "Sudah jelas, kan? Kita putus!" tegas Alsava.
"Alsava ... aku nggak mau!" sahut Gada dengan cepat.
"Terserah kamu! Tapi aku nggak akan menganggapmu lagi! Aku hanya ingin fokus dengan sekolahku. Aku nggak mau gagal, biarpun aku sudah menjadi anak yatim!" Alsava membuka pintu mobil. Namun sebelum ia turun dari mobil, Gada merengkuh tubuhnya dengan kuat.
"Jangan sentuh aku!" bentak Alsava.
"Maafkan aku, Alsava! Semua bisa diperbaiki. Percayalah ...." Dengan nada suara rendah, Gada pun penuh harap.
"TIDAK ...!" pekik Alsava. Ia langsung mengambil sesuatu dari tasnya.
***

Posting Komentar untuk "ALSAVA - Part 4"